Posted by Administrator GIDI, With 0 Comments, Category: Galeri & Notes, Notes,

JANGAN PERNAH MENYERAH

(Pesan dari Lira & Ibunya di Borme)

“ Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik,

aku telah mencapai garis akhir

Dan aku telah memelihara iman.

2 Timotius 4 : 7

Pembacaan : 2 Timotius 3 : 10 – 15

jangan menyerah1

Sahabat injili, Kisah ini merupakan suatu peristiwa sederhana yang pernah memberkati saya ketika melakukan perjalanan di sebuah kampung kecil di Borme Pegunungan Bintang Papua, karena mengandung banyak makna yang bisa kita ambil dari kisah ini. Kadangkala dalam menjalani kehidupan berjuang dan berusaha kita merasa kita sedang berjalan sendiri dan banyak pertanyaan selalu muncul dalam benak kita seperti pertanyaan yang sering muncul dalam diri saya , “dapatkah saya bisa berhasil..? bagaimana supaya bisa berhasil..? apa yang harus saya buat supaya berhasil…? Mengapa saya belum juga berhasil…? Siapa yang bisa bantu saya supaya berhasil…?”. Di dalam kisah ini ada banyak pesan dan jawaban yang bisa peroleh. Sekaligus kita belajar bersama bagaimana Memposisikan Tuhan dalam Usaha dan Perjuangan kita seperti Lira memposisikan Orang tuanya.

Sahabat injili, Lira adalah seorang gadis kecil yang berumur 8 tahun bersama ibunya yang melakukan percakapan dalam perjalanan di sebuah kampung kecil di pegunungan Bintang Papua. Kisah ini terjadi ketika tengah melakukan perjalanan dari hutan tempat mereka bertani menuju kerumah mereka. Dalam perjalanan ini Lira sedang memikul beban yang cukup berat di nokennya dan ibunya pun memikul beban yang berat pula di nokennya. Sahabat injili, jarak dari hutan munuju rumah mereka cukup jauh karena harus melewati sungai dan mendaki gunung. Ketika melakukan perjalanan Lira merasa lelah kemudian Lira bertanya kepada ibunya “Ibu, masih jauhka..? ” jawab ibunya “sdikit lagi nak..”, kemudian mereka terus berjalan di tengah teriknya mentari akhirnya mereka pun menjumpai sungai dan beristirahatlah sejenak Lira dan ibunya sambil minum dan membasahi kepala mereka dengan air sungai itu, mereka pun tidak berlama-lama di sungai itu karena hari mulai senja, Lira terus bertanya kepada ibunya dengan pertannyaan yang sama “ Ibu, Masih jauhka..?” jawab ibunya dengan memeluk sambil menyemangatinya “Sdikit lagi nak..nanti kami akan sampai setelah mendaki gunung ini nak ”, jawab Lira “ haaaa…Lewat gunung besar ini…?” Sambil mengelu dan menangis karena kelelahan tetapi ibunya terus memeluk dan berkata “ nak hanya gunung ini saja yang akan kami lewati setelah itu kami akan tiba di rumah nak”. Kemudian merekapun melewati sungai itu dan mendaki gunung. Diawal pendakian mereka Lira merasa semangat karena hanya gunung itu yang harus di lewati oleh mereka. Tetapi setelah mendaki beberapa meter Lira sudah mulai mengeluh karena pada saat Lira melihat keatas ujung gunung masih jauh dan mereka belum juga sampai karena gunungnya masih tinggi. Sementara mendaki semua pengeluhan perasaan Lira mulai dari rasa capek, rasa haus, rasa bosan, rasa malas, sampai marah terus di keluhkan kepada ibunya tetapi ibunya membiarkan Lira mengungkapkan perasaanya. Sampai pada suatu titik Lira benar-benar merasa Lelah dan tidak mampu lagi meneruskan perjalanan, karena tiupan angin di pendakian. Kemudian ia terjatuh dan semua barang bawaanya di noken terbongkar keluar sehingga amarahnya pun mulai menjadi-jadi dia sangat marah sekali dan menyesal mengikuti ibunya ke hutan. Dengan kejadian itu, Lira pun membiarkan barang-barang yang terbongkar dari noken itu dibawah oleh angin ia hanya duduk dan terus marah sambil menangis. Ketika ibunya melihat keadaan Lira ibunya pun mendekati Lira dan sambil memeluknya berkata “nak, memang ibu tau kamu sangat kelelahan dan marah sama ibu karena perjalanan ini, tapi Lira harus bertahan karena hanya Gunung ini yang harus Lira Lewati. Smangat ya Lira sdikit lagi kami akan sampai juga di Rumah, Ayo…Lira smangat …”. Setelah Lira dipeluk dan di semangati oleh ibunya, Lira dan Ibunya pun mengumpulkan kembali semua isi noken yang terbongkar dan di tiup oleh angin kemudian mereka pun kembali melakukan perjalanan pendakian.

Ketika dirasa oleh ibunya bahwa tiupan angin di gunung mulai meningkat ibunya pun memindahkan kayu bawaannya di tangan sebelah kiri dan ditangan kanannya memegang erat tangan Lira. Lira merasa tidak sendirian meskipun sebelumnya memang Lira tidak sendirian tetapi ketika dirasanya ada tangan yang memegang dia kepercayaan diri dan semangatnya mulai menjadi-jadi, Lira merasa bahwa peristiwa yang dialami sebelumnya mulai dari pengeluhan, marah, bosan, kelelahan itu semua hilang dan seolah-olah tidak perna terjadi. Wow Lira benar-benar memiliki spirit yang berbeda sekali pada saat itu dalam melewati tiupan angin dan rintangan lainnya dalam pendakian.

Pada akhirnya, ketika dilihatnya atap dari rumahnya mulai kelihatan Lira merasa sangat bahagia dan Lira terus memegang erat tangan ibunya dan berkata,” horee…ibu, rumah kita sudah kelihatan, “

ibunya menjawab “ iya nak, rumah kita sudah kelihatan..sdikit lagi sampai”

kemudian Lira berkata “ ibu…Lira minta maaf ya….lira sudah marah, mengeluh dan mengecewakan ibu…padahal nanti kami sampai juga di rumah” sambil menangis dan memegang erat tangan ibunya.

Ibunya menjawab “iya nak, tidak papa…” sambil memeluk dan mencium kepalanya. Kemudian mereka pun pada akhirnya tiba di rumah.

Sahabat Injili, Dalam kepolosannya lira merasa bahwa ibunya adalah sosok yang mampu menjawab semua permintaan maupun keinginannya, Lira pun merasa bahwa ibunya merupakan tempat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan emosionalnya. Sehingga Lira benar-benar terbuka dalam mengekspresikan keadaan apapun yang dialaminya.

Sahabat Injili, ada banyak orang yang telah menggapai kesuksesan berkat usaha, ketekunan dan kesabaran mereka yang tidak pernah menyerah. Namun demikian, ada banyak orang yang telah kehilangan kesempatan untuk meraih keberhasilan karena mereka terlalu cepat menyerah. Dan ini dapat terjadi di tiap bidang kehidupan kita : entah itu Keluarga, Pendidikan, pergaulan, pekerjaan, atau pelayanan. Ketekunan dan Kesabaran kita menjadi kunci untuk meraih kemenangan.

Sahabat Injili, dalam pembacaan kita kali ini, juga menasihatkan kita bagaimana Rasul Paulus tetap bertekun meski mengalami penganiayaan dan kesengsaraan (2 tim, 3 : 10 -11). Ia memandang hidup dengan realitis dan mengakui bahwa sebagai pengikut Kristus, kita akan mengikuti penganiayaan (ay. 12-13). Namun, Ia menginstruksikan Timotius untuk beriman kepada Allah yang berpegang pada penguatan yang di berikan kitab suci (ay.14-15). Dengan melakukan semua itu, Timotius akan dimampukan untuk menghadapi kekecewaan dengan tetap bertekun dan sabar dalam pengharapan. Di penghujung hidupnya, Paulus berkata, “Aku telah Mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Sahabat Injili, untuk itu kita juga dapat mengizinkan Tuhan Yesus untuk menguatkan kita di tengah perlombaan iman yang telah di wajibkan bagi kita, seperti seorang anak yang polos dan tanpa basa basi (munafik). Karena kita semua ini telanjang di hadapan Allah dan Allah memiliki sorotan mata yang lebih tajam dari pada x-ray kedalam sanubari hati kita yang paling dalam untuk itu posisikanlah Tuhan sebagai Tuhan yang kamu bisa terbuka. Karena Allah pasti telah berjanji dan pasti akan menepati janji-Nya, Dia akan memberikan upah bagi mereka yang dengan setia menyelesaikan perlombaan itu.

 

Sahabat Injili,

“ Iman menghubungkan kita dengan kekuatan Allah.”

Please follow and like us: